Senin, 28 Desember 2009

Sastra Sebagai Cerminan Masyarakat dalam Cerita Sri Sumarah

Bab 1. Pendahuluan
Sastra merupakan tulisan indah, baik yang ditulis oleh pengarang dalam kurun waktu tertentu maupun pengarang pada zaman sekarang. Selain itu juga sastra dapat dipandang sebagai gejala sosial, karena menurut Sangidu (2005:41) karya sastra merupakan tanggapan penciptanya (pengarang) terhadap dunia (realita sosial) yang dihadapinya. Di dalam sastra berisi pengalaman-pengalaman subjektif penciptanya, pengalaman subjektif seseorang (fakta individual atau libidinal), dan pengalaman sekelompok masyarakat (fakta sosial).
Dari tanggapan pencipta (pengarang) terhadap dunia sekelilingnya (realitas sosial) yang diwujudkan dalam bentuk karya sastra, maka kiranya dapat dikatakan bahwa karya sastra merupakan pembayangan atau pencerminan realitas sosial. Karya sastra yang dihasilkan pencipta (pengarang) merupakan sastra yang komplek, karena ia berada dalam jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat. Pencipta (pengarang) melahirkan karya sastra yang berwujud novel atau lainnya merupakan manifestasi sosial. Manifestasi sosial yang berwujud karya sastra tidaklah lahir dengan cara yang sederhana, tetapi ia lahir dengan cara pencipta (pengarang) terlebih dahulu melakukan analisis data-data yang ada dalam kehidupan masyarakat, menginterpretasikan, mencoba menetapkan tanda-tanda penting, dan kemudian mengubahnya dalam bentuk tulisan (karya sastra). Dengan demikian, yang harus diperhatikan oleh pencipta (pengarang) adalah bahwa karya sastra harus dilahirkan dari sebuah observasi yang rasional dan pengalaman pencipta (pengarang) dari sebuah realitas sosial. Sebelum pencipta (pengarang) menulis karya sastra yang berwujud novel atau lainnya, maka ia terlebih dahulu menganalisis sebuah realitas sosial yang dihadapinya (Zeraffa, 1973:35).
Sastra yang baik tidak hanya merekam kenyataan yang ada dalam masyarakat seperti sebuah tustel foto, tetapi merekam dan melukiskan kenyataan dalam keseluruhannya. Aspek terpenting dalam kenyataan yang perlu dilukiskan oleh pengarang yang dituangkannya dalam karya sastra adalah masalah kemajuan manusia. Karena itu, pengarang yang melukiskan kenyataan dalam keseluruhannya tidak dapat mengabaikan begitu saja dengan masalah tersebut. Ia harus mengambil sikap dan melibatkan diri dalam masyarakat karena ia juga termasuk salah satu anggota masyarakat (Luxemburg, 1984:28)
Karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Bagaimanapun karya sastra itu mencerminkan masyarakat dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan pada zamannya. Obyek karya sastra adalah relaitas kehidupan, meskipun dalam menangkap realitas tersebut sastrawan tidak mengambilnya secara acak. Karya sastra dapat juga mencerminkan dan menyatakan segi-segi yang kadang-kadang kurang jelas dalam masyarakat.
Sri Sumarah adalah karya sastra adiluhung yang mampu menyentuh hati nurani kita secara lembut. Karya yang mampu membangun jembatan pengertian dan kemanusiaan. Mengajak kita berpihak pada substansi kemanusiaan itu sendiri, bukan pada kulit, simbol, partai, golongan, suku, agama dan ras. Sumarah mampu membangunkan dalam diri kita rasa empati, “senasib sepenanggungan.”
Berdasarkan hal tersebut di atas, penyusun tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Sastra Sebagai Cerminan Masyarakat dalam Novel Sri Sumarah karya Umar Kayam”.
Novel Sri Sumarah ini memberikan gambaran kehidupan masa lampau dan bisa terjadi pada zaman sekarang. Umar Kayam memberikan gambaran kehidupan di waktu lampau mengenai kondisi Sumarah sebagai seorang wanita yang penuh perjuangan dalam memperjuangkan kehidup pribadi dan keluarganya. Sesuai dengan namanya “Sri Sumarah” yang artinya “Sumerah” (pasrah), tokoh ini pasrah dalam menjalani hidupnya, begitupun ia manut terhadap nasehat neneknya yang memegang adat kekunoan (Jawa).


Bab 2. Perumusan Masalah
Karya sastra memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sosial masyarakat karena sastra menyajikan gambaran kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. Kehidupan mencakup hubungan antar masyarakt dengan orang-orang, antar manusia, antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Memandang karya sastra sebagai penggambaran dunia dan kehidupan manusia, kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” penggambaran, atau yang hendak digambarkan. Tetapi keliru kalau dianggap mengekspresikan selengkap-lengkapnya, meskipun karya sastra memang mengekspresikan kehidupan (Wellek dan Warren). Hal ini disebabkan fenomena kehidupan sosial yang terdapat dalam karya sastra kadang-kadang tidak disengaja ditulis oleh pengarangnya. Atau karena hakikat karya sastra itu sendiri yang tidak pernah langsung mengungkapkan fenomena sosial, tetapi secara tidak langsung, yang mungkin pengarangnya sendiri tidak tahu.
Umar Kayam dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur 30 April 1932. Umar Kayam berasal dari keluarga guru, beliau selain sastrawan juga ahli dalam ilmu-ilmu sosial, hal inilah yang menjadi kelebihan dalam penulisan karya-karya fiksinya. Cerita-ceritanya berkisar mengenai tokoh-tokoh yang hidup dan situasi yang jelas serta dengan latar belakang sejarah yang nyata. Mengenai hal ini, sebagian pendapat mengategorikan Umar Kayam sebagai realis. Realis Umar Kayam adalah realisme Jawa yang mengenal kepribadian Jawanya. Pendapat lain perihal fiksi Umar Kayam salah satunya tentang Sri Sumarah disebutnya sebagai mewakili konsep Jawa tradisional tentang istri priyayi.
Dengan melihat isi dalam cerita Sri Sumarah karya Umar Kayam yang menggambarkan bahwa ia sebagai tokoh sentral dalam cerita mengalami berbagai macam cobaan dan penderitaan hidup yang dirasakannya. Maka masalah yang dapat dirumuskan sebagai bahan analisis sebagai berikut:
1. Bagaimana fakta sosial budaya yang terjadi dalam cerita Sri Sumarah karya Umar Kayam
2. Bagaimana tokoh Sumarah membangunkan empati masyarakat
3. Bagaimana Sumarah menggugah memori kolektif kita sebagai bangsa untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama
4. Bagaimana Sumarah mengingatkan kita bahwa sesama manusia, apapun latar belakang politik. Ideology, agama, ras, golongan, bahasa dan lain-lain merupakan fellow traveler (rekan seperjalanan) kita menuju keharibaanNya
Hasil analisa dari tokoh Sumarah yang merupakan cerminan masyarakat pada zamannya akan menjadi bahan kajian pada zaman berikutnya, karena bahwa karya sastra tersebut dapat menjadi suatu bukti sejarah yang berguna pada waktu yang akan datang.

Bab 3. Tinjauan Pustaka
Sastra
Sastra adalah satu istilah yang dikenal umum sebagai istilah yang digunakan untuk nama lembaga seperti fakultas, jurusan, dan program studi dalam sebuah perguruan tinggi. Pandangan ini dilatar belakangi oleh pengertian sastra sebagai alat mengajar, untuk membuat orang lebih tahu dan lebih paham terhadap dunia ataupun terhadap lingkungan sekitarnya. Istilah sastra digunakan untuk menyebutkan “keahlian’ yang ditujukan pada hasil manusia yang dikenal masyarakat luas dan dipersepsi sebagai kegiatan “bersastra”. Di sini terlihat keberadaan sastra dalam program studi sastra, yaitu program studi sastra dalam jurusan sastra, dan jurusan sastra dalam fakultas sastra. Secara pragmatis istilah sastra digunakan untuk menyebut satu sistem yang terbaca pada hasil kegiatan yang dipersepsi dan dirumuskan oleh masyarakat bangsa Indonesia dengan kata Sastra (Teeuw dalam Sangidu, 1984 : 36).
Apakah Sastra? Pertanyaan itu terasa sangat sederhana. Akan tetapi konsekuensi untuk menjawab tidaklah sesederhana menanyakannya. Wiyatmi (2006 : 14) mengatakan sastra bisa diibaratkan seperti angin, berada di mana saja dan kapan saja. Wellek dan Warren (1993) mencoba mengemukakan beberapa definisi sastra, pertama sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Dengan pengertian demikian, maka segala sesuatu yang tertulis, entah itu ilmu kedokteran, ilmu sosial, atau apa saja yang tertulis adalah sastra.
Kedua, sastra dibatasi hanya pada “mahakarya” (great books), yaitu buku-buku yang dianggap menonjol karena bentuk dan ekspresi sastranya. Dalam hal ini, kriteria yang dipakai adalah segi estetis, atau nilai estetis dikombinasikan dengan nilai ilmiah.
Ketiga, sastra diterapkan pada seni sastra, yaitu dipandang sebagai karya imajinatif. Istilah “sastra imajinatif” (imaginative literature) memiliki kaitan dengan istilah belles letters (“tulisan yang indah dan sopan”, berasal dari bahasa Perancis), kurang lebih menyerupai pengertian etimologis kata susastra.
Sastra sifatnya dinamis, tidak selalu melihat dari sudut objektif juga sudut subjektif dan kadang melihat dari segi keduanya. Sastra pun menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya.

Sosiologi Sastra
Hubungan dialektik antara karya sastra dan realitas sosial budaya memperkuat anggapan bahwa sastra merupakan salah satu institusi sosial. Sastra tidak hanya mendapat pengaruh dari realitas sosial tetapi juga dapat mempengaruhi realitas sosial. Memang benar, sastra mengambil sebagian besar karakternya dari bahasa, namun, terkecuali film. Novel seringkali merupakan ikatan dengan momentum tertentu dalam peristiwa sejarah masyarakat. bentuk dan isi novel lebih banyak berasal dari fenomena sosial daripada seni lain. Zerraffa mengatakan bahwa karya sastra merupakan analisis estetis dan sintesis sebuah realitas tertentu dan novelis senantiasa melakukan analisis dan sintesis sebelum memulai menulis (1973: 35).
Pendekatan sosiologi sastra menaruh perhatian pada aspek dokumenter sastra, dengan landasan suatu pandangan bahwa sastra merupakan gambaran atau potret fenomena sosial. Pada hakikatnya, fenomena sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang- dia sebagai pembaca teks-, fenomena itu diangkat kembali (dikongkretkan) menjadi wacana baru dengan proses kreatif (pengamatan, analisis, interpretasi, refleksi, imajinasi, evaluasi, dan sebagainya) dalam bentuk karya sastra.
Sastra menyajikan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. Kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat dengan orang-orang, antar manusia, antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Memandang karya sastra sebagai penggambaran dunia dan kehidupan manusia, kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah "kebenaran" penggambaran, atau yang hendak digambarkan. Tetapi keliru kalau dianggap mengekspresikan selengkap-lengkapnya, meskipun karya sastra memang mengekspresikan kehidupan (Wellek dan Warren). Hal ini disebabkan fenomena kehidupan sosial yang terdapat dalam karya sastra kadang-kadang tidak disengaja ditulis oleh pengarangnya, atau karena hakikat karya sastra itu sendiri yang tidak pernah langsung mengungkapkan fenomena sosial, tetapi secara tidak langsung, yang mungkin pengarangnya sendiri tidak tahu.
Sosiologi sastra merupakan pendekatan yang bertolak dari orientasi kepada semesta, namun bisa juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Menurut pendekatan sosiologi sastra, karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra.

Bab 4. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fakta sosial budaya yang terjadi dalam cerita Sri Sumarah karya Umar Kayam yang merupakan cerminan masyarakat pada zamannya, mengenal diri kita sendiri pada tokoh-tokoh yang kita baca. Seperti Sumarah, kita semuapun merasakan “keteduhan” itu, ketika kita mengetahui keputusan bulat sumarah menangani kasus anaknya. Mengetahui bahwa tokoh Sumarah membangunkan empati masyarakat, tokoh Sumarah menggugah memori kolektif kita sebagai bangsa untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan bahwa tokoh Sumarah mengingatkan kita bahwa sesama manusia, apapun latar belakang politik. Ideology, agama, ras, golongan, bahasa dan lain-lain merupakan fellow traveler (rekaan seperjalanan) kita menuju keharibaanNya

Bab 5. Metode Penelitian
Desain dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik penelitian menggunakan metode Library Research atau metode kepustakaan dengan mencari sumber pustaka yang mendukung untuk objek penelitian “Sastra Sebagai Cerminan Masyarakat dalam Novel “Sri Sumarah” Karya Umar Kayam”. Unit analisis yang digunakan adalah isi cerita dari novel Sri Sumarah yang ditulis Umar Kayam. Kisah cerita ini terdiri dari tiga latar waktu, yaitu masa sebelum Gerakan 30 S/PKI, masa Gerakan 30 S/PKI, dan masa sesudah Gerakan 30 S/PKI.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan mimetik dimana karya sastra dihubungkan dengan semesta dan dengan dunia nyata. Sebuah teori klasik yang berasal dari Plato dan Aristoteles, yaitu yang terkenal dengan teori imitasinya. Esensial dari teori mimetik tersebut bahwa semesta, kenyataan, atau sesuatu yang di luar karya sastra itu sendiri menyaran pada pengertian luas termasuk berbagai masalah yang diacu oleh karya sastra, seperti filsafat, pandangan hidup bangsa, psikologi, sosilogi dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2005 : 7). Dengan menggunakan pendekatan mimetik maka akan mengetahui hubungan kebenaran faktual dengan kebenaran imajinatif. Yang sebenarnya menurut Aristoteles yaitu bahwa karya sastra merupakan paduan antara unsur mimetik dengan kreasi, peniruan dan kreativitas, khayalan dan realitas.

DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 2002. Pokoknya Kualitatif. Pustaka Jaya : Bandung
Aminudin, Drs., M.Pd. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Sinar Baru Algesindo : Bandung
Atmazaki, Drs. 1991. Analisis Sajak, Teori, Metodologi dan Aplikasi. Angkasa : Bandung
Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra, Sebuah Pengantar Komprehensif. Jalasutra: Yogyakarta
Hawthorn, Jeremy. 1985. Studying Novel, An Introduction. Edward Arnold Press: Great Britain
Keraf, Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta
Koentjaraningrat. 1973. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Edisi Ketiga. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Nurgiyantoro, Burhan. 2006. Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada Universty Press : Yogyakarta
Pradopo, Rachmat Djoko, Prof. Dr. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
------------------ 2005. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
------------------dkk. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Hanidita Graha Widya dan Masyarakat Poetika Indonesia : Yogyakarta.
Sangidu. Dr. M.Hum. 2005. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik dan Kiat. Seksi Penerbitan Sastra Asia Barat. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Semi, M. Atar, Prof. Drs. 1990. Metode Penelitian Sastra. Angkasa : Bandung
Suharyati, Henny, Dra., MA. 1995. Pengantar Pengkajian Prosa. Bahan Ajar Mata Kuliah Prose Fakultas Sastra Universitas Pakuan Bogor (tidak dipublikasikan)
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra, Beberapa Alternatif. Hanindita Graha Widya : Yogyakarta
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Pustaka Jaya : Jakarta
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Gramdia : Jakarta
Wiyatmi. 2005. Pengantar Kajian Sastra. Pustaka : Yogyakarta

1 komentar: