Kamis, 10 Desember 2009

Analisis Strukturalisme Mata Untuk Mama

PENDAHULUAN


1. Latar Belakang Penulis
Sainul Hermawan, lahir di Desa Brakas. Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, sekitar 13 Maret 1973. Pendidikan dasar sampai menengahnya seluruhnya ditempuh di Sumenep. Setelah menyelesaikan studi pasca sarjananya di Pascasarjana Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 2003, dia kembali mengajar di almamaternya, FKIP Universitas Islam Malang, Jawa Timur. Ketika masih di Malang, Jawa Timur, di samping kesibukannya sebagai pengajar, dia aktif menulis esai dan resensi buku tentang seni, budaya, pendidikan, dan politik untuk Malang Post, Posinfo, Warta, Koran Pendidikan, Metro Pos, dan Kompas Jawa Timur. Selain menulis esai dan resensi, dia juga sesekali menulis cerpen dan puisi.
Sejak (Februari 2005) menjadi staf pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PS-PBSID) FKIP Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, esai dan cerpennya ikut menghiasi lembaran sastra SKH Radar Banjarmasin dan Seloka Tepian (Media Alternatif Sastra Banjarbaru, Kalimantan Selatan). Esai-esainya tentang jurnalistik dan kebudayaan lokal juga menghiasi lembar opini SKH Banjarmasin Post. Analisis ilmiahnya mengenai sastra dapat dibaca di Jurnal Pendar (Solo), Jurnal Metafor, dan Jurnal Wiramartas (Banjarmasin). Di PS-PBSID FKIP UNLAM dia membina mata kuliah Teori Sastra, Kritik Sastra, Semantik, Sosiolinguistik, Penerjemahan, dan Ilmu Budaya Dasar. Selain sebagai dosen tetap di FKIP UNLAM, dia juga menjadi dosen tidak tetap di STKIP PGRI Banjarmasin, membina mata kuliah Filsafat Ilmu, Filsafat Bahasa, Introduction to Literature, dan Penulisan Kreatif Sastra. Bukunya yang telah terbit adalah Tionghoa dalam Sastra Indonesia (Ircisod, 2005).
2. Pandangan Strukturalisme Terhadap Karya Sastra
Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Strukturalisme Praha. Sebuah karya sastra memiliki sifat keotonomian, sehingga pembicaraan terhadapnya juga tidak perlu dikaitkan dengan hal-hal lain di luar karya sastra.
Sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangun)-nya. Di satu pihak struktur karya sastra dapat diartikan sebagi susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah. Di pihak lain struktur karya sastra juga menyarankan pada pengertian hubungan antara unsur (intrinsic) yang bersifat timbal-balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama mambentuk satu kesatuan yang utuh.
Selain itu istilah struktural di atas, dunia kesastraan (juga: linguistik) mengenal istilah strukturalisme. Strukturalisme dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antaraunsur pembangun karya yang bersangkutan. Strukturalisme (disamakan dengan pendekatan objektif) dapat dipertentangkan dengan pendekatan yang lain, seperti pendekatan mimetik, ekspresif, dan pragmatik. Dengan demikian, kodrat setiap unsur dalam bagian sistem struktur itu baru mempunyai makna setelah berada dalam hubungannya dengan unsur-unsur yang lain yang terkandung di dalamnya.
Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antaraunsur instrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lainnya. Hubungan antarunsur dapat secara bersama membentuk sebuah totalitas-kemaknaan yang padu. Misalnya, bagaimana hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lainnya, kaitannya dengan pemplotan yang tak selau kronologis, kaitannya dengan tokoh dan penokohan, dengan latar dan sebagainya. Yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antaraunsur itu, dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai

II. Pandangan Strukturalisme Terhadap Sastra dalam Cerpen “Mata untuk Mama” karya Sainul Hermawan

A. Peristiwa
Menurut pandangan strukturalisme bahwa peristiwa yang terjadi dalam suatu cerita bisa secara kronolgis atau pun secara linear. Jika dilihat dari ceita Mata untuk Mama berbentuk kronologis karena cerita terjadi tidak berurutan atau tidak runtut tapi dari satu kejadian dengan kejadian yang lain berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

1. Rangkaian Peristiwa
-Mataku hanya menangkap garis warna
-Melihat mamaku menyeberang jalan
-Dia tidak bersama ku
-Mengetahui berbagai macam perempuan tapi tidak mengetahui nama-nama mereka
-Bertanya pada nenek tentang ibuku
-Nenek memberikan jawaban atas pertanyaanku, bahwa mamanya sedang mencari seseorang untuk mengajari bercinta
-Bertanya mengenai pertanyaan yang berulang-ulang
-Perempuan itu, membayarkan makanan yang telah kami makan
-Ucapan terima kasih ku kapada ibu yang memberikan traktiran
-Nenek menjelaskan papanya
-Perempuan itu mengatakan kenapa mengulang-ngulang cerita
-Perempuan itu bergegas membayar ke warung
-Ucapan terima kasih dari si ibu, bahwa dia senang mendengar ceritanya
-Ibu itu menyuruh masuk sekolah karena jam istirahat sudah habis
-Ucapan terima kasih kepada si ibu
-Mamaku menemukan Arjunanya
-Merencanakan maker dengan menyewa manusia-manusia tanpa jiwa
-Arjuna bersendawa bunga dan berkata-kata wewangian
-Sesuatu menerbangkan mereka
-Arjuna sakit tapi tidak cedera
-Kaki kiri mama patah
-Arjuna menghilang kekayangan untuk bercinta
-Mama menghilang dari rumah sakit
-Dia tidak memberi tahu keluarganya
-Dia ada di desa, di rumah seorang perempuan berhati kapas
-Luka itu mulai kering
-Setiap pagi memandang matahari
-Ia mencari inspirasi untuk melepaskan tongkatnya
-Tak sampai sebulan sudah bisa jalan lagi tapi tidak seindah dulu langkahnya.
-Anak dan ibu sedang bercerita
-Ibu memberikan pujian terhadap cerita yang didengarkannya
-Perempuan itu memesan lagi es
-Terjadi obrolan di warung
-Si perempuan bertanya tentang wajah ibu si anak
-Si anak ragu mengangguk atau menggeleng
-Si anak bercerita tentang ibunya
-Si anak tidak menceritakan semua tentang ibunya tapi ada sisi pentying yang tidak disampaikannya
-Si ibu dan si anak bercerita tentang akan kerinduannya
-Si anak meminta ijin utnuk bertanya sesuatu
-Si ibu memperbolehkan dan berharap dapat menjawab atas pertanyaannya
-Si anak bertanya kepada si ibu
-Perasaan si ibu begitu hancur karena ulah suaminya, tapi dia masih mengingat wajah anak yang telah ditinggalkannya
-Si ibu akan berangkat mutasi dan memberikan kenang-kenangan kepa si anak
-Si anak merasa senang atas kenang-kenangan yang diberikan
-Si anak remaja sungkem kepada si ibu berpakaian dinas
-Si anak meminta ijin untuk beryukar pikiran melalui telpon
-Sebenarnya si anak mengetahui bahwa si ibu itu adalah ibu kandungnnya
-Anak itu merahasiakan kepada papa nya bahwa ia telah mengetahui ibunya

2. Pemplotan
-Papahnya seorang ningrat yang senang perempuan
-Ibunya meninggalkan dia
-Anak itu merindukan ibunya
-Anak itu bertemu dengan perempuan di depan sekolah
-Komunikasi dua orang yang saling menyembunyikan rahasia mereka masing-masing
-Perpisahan
-Si anak memberikan foto kepada si ibu yang hanya tinggal matanya
-Si ibu memberikan bola dan pena yang di dalamnya berisi foto si anak
-Si ibu berpisah dengan anaknya karena dinasnya di pindahkan

3. Episode
Senang main perempuan karena dia merasa
mampu dan memiliki harta yang banyak

Papa orang kaya ------------------------------ I ---------------------- meninggalkan istrinya
Balas dendam terhadap perbuatan suaminya
terhadap dirinya

Si ibu meninggalkan anaknya ---------------- I ------------------- si ibu mencari Arjuna

Pertemuan antara ibu dengan anak, tapi
diantara mereka saling menjaga rahasia.
Dalam diri si ibu merasa menyesal karena
Telah manyia-nyiakan anaknya
Si ibu bertemu dengan anaknya ------------- I ------------------ si anak merasa senang

Si ibu pindah tempat kerja
Perpisahan kembali antara ibu dan anak ------- I --------------- si anak merindukan



B. Tokoh dan Penokohan
Tokoh yang ada dalam cerpen ini masing-masing meiliki ikatan batin yang kuat. Tapi ikatan batin ini teputus karena sama-sama memiliki perasaan telah dihiyanati. Si papa karena ia merasa paling kaya dan terhormat sehingga ia mudah sekali untuk memperaminkan wanita kapan pun, siapa pun, dan dimana pun krena ia merasa memiliki segalanya. Tokoh papa pada peristiwa pertama dan terakhirnya berebntuk desekripsi saja dari si penulis atau mungkin juga dari aku lirik atau mungkin juga tokoh yang diceritakan oleh tokoh yang ada dalam cerita.
Nenek dalam cerita ini tokoh nenek keterlibatannya tidak langsung. Karena tidak terdapat percakapan antara si anak dan si nenek tapi hanya ada paparan bahwa si anak telah bertanya mengenai keberadaan ibunya. Jadi tokoh nenek ini peranannya penting juga karena mengetahui keadaan si ibu dan mengapa si ibu meninggalkan anaknya. Adapun percakapan antara si nenek dan si cucu itu merupakan percakapn flash back saja karena pada peristiwa berikutnya tokoh si nenek tidak muncul lagi.
Perempuan berbaju dinas, merupakan tokoh yang penting dalam cerita karena dia yang memegang cerita mulai dari awal sampai akhir. Karena sebenarnya si ibu berpakaian dinas telah mengetahui bahwa anak yang diajak bicara itu adalah anaknya. Tapi dia tidak ingin berterus terang mengakuinya karena dalam dirinya ia memiliki persaan bahwa ia telah menyia-nyiakan anaknya karena merasa dia telah disakati oleh papanya.
Si anak, dalam cerita ini peranannya sama pentinya seperti ibu berpakain dinas. Si anak sendiri merasa dan megakui bahwa ibu yang diajak bicara tersebut adalah ibunya, namun dia tidak mengungkapkan yang sebenarnya. Jadi dia hanya bercerita saja tentang keadaan ibunya. Si anak memiliki foto ibu nya namun sebagian dari foto tersebut telah dirobeknya yang tersisa dari foto itu hanya gambar mata.
Arjuna dalam cerita hanya sebagai tokoh tambahan yang keberadaanya tidak begitu penting karena dari cerita hanya muncul pada bagian awal, bahwa si arjuna merupakan pelarian dari si ibu untuk melepaskan nafsu nya saja. Arjuna tersebut merupakan dambaan dari si ibu.

C. Sudut Pandang Penceritaan
Dalam cerpen Mata untuk Mama, sudut pandang yang digunakan adalah third person technique, di mana dalam teknik penceritaan menggunakan oarng ketiaga. Hal ini dapat diketahui bahwa isi dai cerita tersebut banyak sekali narasi yang digunakan untuk menceraitakan tokoh yang lain. Seperti kondisi si papa pada saat menyakiti istrinya. Dan si anak banyak sekali menceritakan kondisi ibu dengan bentuk narasi.


D. Plot/Alur
Plot atau alur yang digunakan dalam cerita ini adalah alur capuran atau compound plot. Cerita dalam cerpen ini ada yang menceritakan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan dating.
Cerita masa lalu : contohnya pada saat si papa menyakiti istrinya terdapat pada bagian tiga, hal ini dapat diketahui mengapa si papa meninggalakn si ibu
Cerita masa sekarang : pada saat percakapan dengan si ibu di warung sekolah. Namun yang diceritakannya adalah hal-hal masa lalu.
Cerita masa yang akan datang : tentang kepindahan si ibu berpakaian dinas yang harus pindah karena tugas.
Pada akhir deskripsi yang diungkapkan oleh si tokoh bahwa anak dan ibu itu sama-sama memiliki foto diantara meraka. Namun mereka sama-sama menjaga rahasia yang mereka miliki bahwa meraka adalah ibu dan anak kandung sendiri.

E. Simbol
Dalam cerita Mata untuk Mama, penulis banyak sekali menggunakan simbol untuk mengungkapkan makna yang lebih mendalam kepada pembaca. Makna dari simbol yang ada dalam cerita yaitu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang ada pada tokoh dan begitu mendalam sekali baik untuk pembaca mapun tokoh yang ada dalam cerita sebagai lawan main.


Simbol-simbol yang terdapat dalam cerita tersebut yaitu:
1. Garis dan warna
2. Arjuna
3. Tikus
4. Rumah tangga
5. Rumah-rumah bertangga
6. Berpakaian pejabat
7. Makar
8. Bersendawa bunga
9. Berkata-kata wewangian bunga abad dua puluh
10. licin
11. kayangan
12. berkayang
13. dayang-dayang
14. perempuan berhati kapas
15. luka
16. sepi
17. memandang matahari
18. menerobos dedaunan
19. menyuntikan energi
20. kertas-kertas cerita sketsa
21. tak punya kepala
22. anak-anak burung
23. kabut pikiran
24. mencincang batinnya
25. jejak
26. tertiup angin
27. sepatu bola dan pena

LATAR (SETTING)
1. Latar tempat (Setting of Place)
Sebagian besar latar dalam cerita ini mengambil latar di sebuah warung yang berada di dekat sekolah anak remaja laki-laki tersebut, di tempat inilah dia selalu menghabiskan waktunya untuk berbincang-bincang dengan seorang wanita yang cantik yang selalu membayarkan makanannya dan ternyata dia adalah ibu kandungnya.
Perempuan berpakaian pejabat. Cantik. Baik hati karena dia selalu membayar makananku saat aku jajan diwarung itu dan kebetulan dia juga makan disitu. Sekolahku dan kantornya hanya berjarak sekitar lima bangunan di sisi jalan yang sama.
Ada beberapa latar tempat lainnya di dalam cerita ini, seperti desa tempat ibunya tinggal setelah meninggalkannya dan juga rumah sakit tempat ibunya dulu dirawat setelah mengalami kecelakaan, namun latar tersebut hanya disebutkan secara eksplisit saja dan hanya diketahui dari ucapan anak remaja tersebut.

2. Latar Waktu (Setting of Time)
Latar waktu dalam cerita ini terjadi pada pagi hari dan pada saat-saat jam sekolah berlangsung antara pagi sampai siang hari karena wanita itu selalu berbincang dengan anak remaja laki-laki tersebut pada saat dia berada di sekolah “ sekolahku dan kantornya hanya berjarak sekitar lima bangunan di sisi jalan yang sama. Anehnya, hanya dia yang tampak berani jajan di warung kelas siswa SMP”, dari kutipan ini dapat disimpulkan bahwa wanita tersebut selalu membeli makanan dan membayarkan makanan anak remaja laki-laki tersebut pada jam-jam sekolah.

3. Latar Sosial (Social Setting)
Latar sosial dalam cerita ini mengambil kesenjangan antara orang yang berasal dari kalangan ningrat dengan kaum biasa. Ayah anak remaja tersebut merupakan orang yang berasal dari golongan atas, seorang ningrat yang bisa memandang rendah kaum yang berada di bawahnya dan menganggap remeh seorang perempuan yang menurutnya adalah makhluk yang bisa dipermainkan. Kepergian ibu anak remaja tersebut pun disebabkan oleh sikap ayahnya tersebut.

Sebab lelaki itu merasa perempuan itu bermartabat karena dirinya yang ningrat, keturunan orang terpandang, yang berhak menendang mereka yang dianggap kurang terpandang. Dia merasa dengan mudah mendapatkan perempuan yang lebih darinya karena setiap perempuan telah dianggapnya sebagai makhluk bodoh, yang mudah tergiur oleh kekayaannya.



DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 2002. Pokoknya Kualitatif. Pustaka Jaya : Bandung.

Aminudin, Drs., M.Pd. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Sinar Baru Algesindo : Bandung.

Atmazaki, Drs. 1991. Analisis Sajak, Teori, Metodologi dan Aplikasi. Angkasa : Bandung.

Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra, Sebuah Pengantar Komprehensif. Jalasutra: Yogyakarta.

Hawthorn, Jeremy. 1985. Studying Novel, An Introduction. Edward Arnold Press: Great Britain.

Keraf, Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Koentjaraningrat. 1973. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Edisi Ketiga. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.

Nurgiyantoro, Burhan. 2006. Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada Universty Press : Yogyakarta.

Pradopo, Rachmat Djoko, Prof. Dr. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.

------------------ 2005. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

------------------dkk. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Hanidita Graha Widya dan Masyarakat Poetika Indonesia : Yogyakarta.

Sangidu. Dr. M.Hum. 2005. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik dan Kiat. Seksi Penerbitan Sastra Asia Barat. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.

Semi, M. Atar, Prof. Drs. 1990. Metode Penelitian Sastra. Angkasa : Bandung.

Suharyati, Henny, Dra., MA. 1995. Pengantar Pengkajian Prosa. Bahan Ajar Mata Kuliah Prose Fakultas Sastra Universitas Pakuan Bogor (tidak dipublikasikan).

Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra, Beberapa Alternatif. Hanindita Graha Widya : Yogyakarta.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Pustaka Jaya : Jakarta.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Gramdia : Jakarta.

Wiyatmi. 2005. Pengantar Kajian Sastra. Pustaka : Yogyakarta.

1 komentar:

  1. 888casino New Zealand | $1000 No Deposit Bonus | JMHub
    888casino New Zealand offers a 용인 출장마사지 great casino experience and bonuses. 양주 출장마사지 We are excited to 서울특별 출장샵 welcome you 수원 출장샵 back to our huge selection of slot games and 계룡 출장마사지

    BalasHapus